Menikah, Kok Jadi Menakutkan

Menikah, Kok Jadi Menakutkan

Foto oleh Emma Bauso dari Pexels

 

 

Ahir dari masa remaja adalah dewasa, dan tujuan yang dicapai selanjutnya adalah berkeluarga. Untuk mencapai kesana ada pintu yang harus dilewati, pintu itu bernama menikah. Aku yakin, semua penduduk Indonesia punya keinginan untuk menikah semua, walaupun tidak harus 100%. Nah itu yang akan kita bahas ditulisan ini.

 

Perjalanan Ahir dari sebuah hubungan, mulai dari pertemanan, sahabatan, teman rasa pacar, pacar rasa teman atau pacaran lah sebutan paling familiar itu akan sampai pada point utama yaitu menikah. Dalam artian berkomitmen untuk menyatukan budaya, cultural, habit bahkan kedua keluarga. Menikah adalah jalan menuju ke arah itu, dan syarat menikah adalah mempunyai pasangan terlebih dahulu.

 

Ahir-ahir ini dilihat dari realitas yang ada, menikah bukannya hal yang membahagiakan tetapi menjadi hal yang sangat menakutkan. Serem mungkin ya kalau dibilang menakutkan? Begini, kenapa aku bilang menakutkan.

 

Sederhananya sebelum melangkah sampai pada kata nikah, otak kita sudah surfing. Mulai dari biaya, tempat tinggal, survive ekonomi, keadaan lingkungan yang berubah-ubah misal kayak pandemi yang merontokkan semua lini kehidupan. Prilaku seperti itu menjadikan hantu di kepala kita masing-masing yang saat ini sampai pada umur dewasa.

 

Menikah menjadi sangat menakutkan ketika umur sudah tua, belum mempunyai ketahanan ekonomi, bahkan good looking pun menjadi masalah yang serius.

 

Melihat situasi yang sekarang ini tetang realistis, memang jadi perihal utama. Misal kita mau menikah tetapi sudah dihadapkan dengan segala tetek-bengeknya. Mulai dari mahar yang disesuaikan dengan kelulusan pendidikan terahir, biaya hajatan yang harus ada hiburannya, menyewa gedung untuk resepsi sampai kamar yang estetik untuk malam pertama dan lain sebagainya.

 

Bahkan hanya untuk bertemu sama orang tua pacar sudah gemetar duluan, karena rentetan pertanyaan akan menjejali otakmu. Kamu punya kerjaan apa, kamu bisa menuruti semua kemauan anakku tidak, kamu udah punya rumah belum dll. Kembali lagi, menikah kok jadi sangat menakutkan. 

 

Dulu menikah itu tidak seribet yang sekarang, yang penting dapat restu orang tua, ada calonnya, ada maharnya udah tuh nikah. Mungkin memang jaman berevolusi dan pemikiran serta pola hidup juga berkembang.

 

Paling mudah untuk sekarang ini adalah tetap bersyukur atas semua yang diberikan oleh Tuhan. Memasarkan semuanya ke Tuhan adalah sebuah cara yang presisi dan pasti. Yang jelas jangan takut menikah, masalahnya sama kan, calonnya yang belum ada dan belum ada yang mau hehehe.