Maryani, Lukisan Telanjang Karya Pelukis Indo-Tionghoa Terbaik Dari Purworejo (Sambodja Asmara)

Maryani, Lukisan Telanjang Karya Pelukis Indo-Tionghoa Terbaik Dari Purworejo (Sambodja Asmara)

Reviens.id, Bekasi - Kita sering kali melihat karya seni di Eropa, misalnya saja patung-patung yang ada di Yunani. Kebanyakan karya seni tinggi di Yunani atau Eropa sering kali tanpa busana. Nah di Indonesia, juga banyak karya seni yang serupa layaknya di Eropa. Salah satunya adalah karya Sambodja, seorang seniman dari Purworejo.

 

Lukisan telanjang, yang menampilkan buah dada secara realistis ini adalah Maryani. Maryani sendiri adalah istri seorang seniman, sekaligus menjadi model pribadi dari sang pelukis sendiri. Yakni Sambodja Asmara. Terparaf oleh Sambodja: Tahun 1968.

 

Sambodja lahir pada tanggal 10 Juni 1931 di Kota Purworejo, Jawa Tengah. Putra bungsu dari pasangan Sukistio (Tio Kwan Yoe) dan Siti Nursiah (Sie Tien Nio) ini diberi nama Tio Kiem Hien. Sambodja telah jatuh cinta dengan seni menggambar sejak ia masih sangat muda.

 

Pada tahun 1937 ayahnya meninggal dan keluarganya tidak punya uang baginya untuk melanjutkan sekolahnya. Kemampuan melukisnya mulai terasah, ketika dia berusia 13 tahun, temannya telah membantunya menemukan pekerjaan, yah pekerjaan itu melukis payung.

Sambodja kecil melakoni pekerjaan sebagai pelukis payung saat usianya kurang lebih enam-tujuh tahun di sekitaran Pecinan Purworejo, atau dekat dengan tempat tinggalnya.

 

Kemudian ia menggunakan uangnya yang diperoleh dari melukis payung untuk melanjutkan sekolah sampai akhir pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1945.

 

Selama perang revolusi, antara class di tahun 1945 dan 1949, Sambodja sering pindah dari satu tempat ke tempat lain dan oleh sebab itu, sekolah dan pekerjaannya sering terganggu.

 

Tahun 1949 Sambodja pindah dan menetap di Jakarta. Antara tahun 1951 - 1953 ia bekerja untuk Auke Sonnega, seorang seniman Belanda, yang telah menetap di Jakarta. Sejak tahun 1962 Sambodja mengambil bagian dalam berbagai pameran kelompok dan pameran tunggal. Dia menampilkan karyanya bersama dengan seniman Hindradjat di Balai Budaya pada tahun 1963.

 

Kemudian pada tahun 1964, ia berpartisipasi dalam pameran kelompok yang diadakan untuk menandai layanan Angkatan Udara Republik Indonesia di gedung Komite Olahraga Nasional (KONI).

 

Pameran yang dibuka oleh Presiden Soekarno. Ahirnya pada tahun 1965 Sambodja mengadakan pameran tunggal pertamanya di kediaman Atase militer Kedutaan Besar AS William Slade. Setelah ini Sambodja terus mengadakan pameran. 

 

Setelah kurun waktu beberapa tahun, pada tahun 1970, Sambodja mengadakan pameran tunggal berikutnya di Asoka Hotel (sekarang Grand Hyatt Hotel di Jalan MH Thamrin). Lalu ia mengadakan pameran tunggal lain pada tahun 2000, di Hotel Sahid, pada waktu itu pameran dibuka oleh Wakil Presiden saat itu, ibu Megawati Soekarnoputri.

 

Dari kegigihannya dalam seni, ia mendapat tempat dihati para penikmatnya. Karya-karyanya banyak di nikmati para pengagum seni yang memang menyukai gaya melukisnya, karyanya tercatat pernah di lelang atau di perjualbelikan di balai lelang Sidhharta Auctioner Jakarta, Rapid Estade Liquidator Florida Amerika Serikat, Kuyper Auctioner Harleem Belanda dan banyak balai lelang lainnya.

 

Sambodja Asmara adalah sosok yang melengkapi deretan para seniman republik terbaik, khususnya dari golongan Indo-Tionghwa yang pernah dimiliki oleh negeri ini. Selain Sambodja atau Tio Kim Hin, sebut saja nama, Otto Swastika (Siauw Tik Kwie), Chris Suharso ( Siauw Swie Tjhing) dari Surakarta, Anton Kustiawijaya ( Huang Wei Hsing) dari Kota Bandung, Siauw Tjhang dari Cirebon dan lainnya.

 

Pada ahirnya, dan tanpa kita sadari Karya-karya itu bangkit lagi dari persembunyian, seakan-akan mampu menjadi topik berbicara dan membisikkan obat luka kepada si empunya karya. Sejarah Ini dapat diberdayakan sebagai penawar, obat rindu, dan kekaguman bahwa republik ini pernah mengalami masa kelam. Para seniman yang tak tahu apa-apa, paska periode 65 terpaksa harus melarikan diri, seperti pelukis Istana Lee Man Fong yang pindah ke Singapura, Wen Pe Or ke Hongkong, dan secara keseluruhan Yin Hua sudah usai riwayatnya. 

 

Begitulah dibalik lukisan Maryani, bukan hanya lukisan yang dapat dinikmati oleh mata saja, tetapi masuk ke relung jiwa. Lewat lukisan itu Sambodja Asmara menampakkan ketotalitasnya dalam berkarya, bahkan istrinya sendiri dibuat untuk model lukisannya, yang artinya ia telah menemukan seni yang sejati. 

 

 

Source: Sidhharta Auctioner, Invaluable, Purworejo-conect