Jose EO Bangkitkan Band Kutoarjo Dari Tidur Panjang

Jose EO Bangkitkan Band Kutoarjo Dari Tidur Panjang

Reviens.id, Kutoarjo - Setelah dianggap mati suri dan vakum dalam waktu yang cukup lama, anak-anak band Kutoarjo kembali bisa menikmati suasana malam yang asyik. Bertempat di Amphitheater ikonik Kutoarjo, tepatnya sisi Selatan Alun-alun Kutoarjo, Sabtu (5/8) band berbagai genre dan generasi beraksi. 
 

Tampil dinomor urut pertama, G Minor langsung menggebrak panggung sederhana yang disiram ligthing seadanya. Membawakan lagu sendiri, Khayalanku, intro gitar Budiawan Sigit (Blacky), cukup membangun atmosfer yang menyenangkan penonton.

 

Sementara betotan Bass yang dimainkan Guruh, dan ketukan Didit pada drum elektrik segera saja ditingkahi vocal Ebiy Katsu. Sebagai intro, lagu ini cukup meyakinkan penonton bahwa band ini bergenre Rapcore, meski beberapa ada yang menyebutnya Hipcore. 
 

Gitar Shecter C-1 Custom buatan brand lokal Agiga yang disetting senar drop in C size 0.10 mengasilkan nada rendah yang pas untuk genre G Minor.  Disusul lagu Wiro Sableng dan ditutup Take A look Around nya Limp Bizkit.

 

G Minor sepertinya mengirim sinyal kepada penonton bahwa mereka masih eksis dan konsisten di jalurnya.
 

Gallery Musik yang bermateri musisi berkualitas sempat mencuri perhatian dengan hadirnya drummer cilik. Seperti tanpa jeda, disusul Jookies dan Lathu Kustik sejenak menghibur dengan lagu pop.

 

Penonton sempat meneriaki Lathu Kustik dengan kata Letto beberap kali saat lengkingan vokal Frontmannya sedikit “tak sampai”.
 

MC Dwiky mampu mengisi jeda dengan improvisasi dialogis dengan penonton. Tak hanya memperkenalkan history band yang tampil malam itu, beberapa joke dan celoteh membuat penonton tertawa.
 

Larasati, band yang kata vokalisnya masih berumur Jagung tak kalah komunikatif. Ada lagi nama Diskusi Senja Project, Popokho dan The Plaz.  Sementara KB Band urung tampil.

 

Dan The Plaz seperti menjadi band pembeda yang tampil dengan lagu band bergenre Glamrock, Jon Bon Jovi, Guns N Roses dan Dream Theatre.

 

Tepuk tangan beberapa kali menggema saat band ini membawakan November Rain. Melodi gitar berdurasi panjang ini seolah menjadi ukuran skill gitaris. Sayangnya Frontman band ini masih terpaku di depan microphone dan masih memegang handphone sambil membaca lirik lagu.

 

Namun secara umum iven musik malam itu menjadi sinyal akan eksistensi dan kebangkitan musisi Kutoarjo yang tergabung dalam band berbagai genre. 
 

“Apresiasi buat anak-anak band Kutoarjo, Jose Event Organizer dan  GSK menginisiasi acara ini, musik adalah bagian dari ekonomi kreatif yang sangat bagus untuk dikembangkan!” kata Camat Kutoarjo, Galuh Bakti Pertiwi, kepada media partner, Reviens.id.
 

Menurutnya itu menjadi bukti bahwa Kutoarjo punya banyak talenta dan komunitas musisi dalam berbagai genre bisa bersatu dalam satu iven malam itu. Landmark ikonik yang bertuliskan KUTOARJO di sisi Selatan Alun-alun menjadi ruang publik yang kelak diharap bisa melahirkan musisi handal. 
 

“Ini sangat positif sebagai alternatif solusi bagi anak muda Kutoarjo agar tak terjerumus dalam kegiatan negatif!” tambah Galuh. 
 

Sementara itu Joko dari Jose EO menyatakan kritik terhadap UPT terkait, dikarenakan sambungan listrik yang biasanya bisa digunakan untuk acara musik, justru dinyatakan rusak saat iven ini hendak digelar. “Kami terpaksa mengusung Genset untuk suplai energi listriknya!” katanya sedikit kecewa.

 


 

Respon dari mitra sebagai sponsor dan dukungan berbagai pihak  untuk gelaran acara ini cukup terbukti nyata. Malam itu sekaligus sebagai launching Jose Audio Sound System milik Jose berdaya 7000 Watt. 
 

“Kami  kedepankan sound clarity yang didukung Jose Audio Sound System dan brand  Agiga di alat musiknya.” giliran Fathur, Ketua Panitia angkat bicara.
 

Ke depan mereka berharap anak-anak band Kutoarjo bisa disatukan suara, visi dan misi nya membangun keberlangsungan komunitas musik dalam beraktualisasi.
”Kutoarjo Bersatuuuu...Yess!” teriak mereka menutup gelaran malam itu.(agam)